A. Pengertian Harapan
Setiap manusia memiliki harapan. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang tersebut. Misalkan Jajang berharap mendapat nilai A dalam mata kuliah Algoritma, namun ia malas belajar, sering absen dan santai dalam menghadapi ujian. Bagaimana Jajang memperoleh nilai A? Luluspun pasti sulit. Selain itu, harapan harus dilandasi kepercayaan, baik terhadap diri sendiri maupun kepercayaan terhadap Tuhan. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
B. Apa sebab manusia mempunyai harapan?
1. Dorongan Kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak diciptakan Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira dan semacamnya. Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan.
2. Dorongan kebutuhan hidup
Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah maupun kemampuan berpikirnya. Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia itu ialah:
a. Kelangsungan hidup (Survival)
Untuk melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan. Untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan itu maka manusia sejak kecil mulai belajar. Dengan pengetahuan yang tinggi, harapan untuk memperoleh kebutuhan pangan, sandang dan papan yang layak akan terpenuhi.
b. Keamanan
Setiap orang membutuhkan keamanan. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa aman. Dalam hal ini agama sering menjadi cara memperoleh keamanan moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.
c. Hak dan Kewajiban mencintai dan dicintai
Bila seorang telah menginjak dewasa maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai. Pada saat seperti ini remaja telah sadar akan keberadaannya. Sebab pada umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai dengan alamnya.
d. Status
Setiap manusia yang lahir di bumi ini tentu akan bertanya tentang statusnya. Status itu penting karena dengan status, orang tahu siapa dia.
e. Perwujudan cita-cita
Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangkatannya atau profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.
C. Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.
Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan juga hak beragama menurut keyakinan. Dalam hal beragama, tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu. Dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Kebenaran. Dalam tingkah laku, ucapan, perbuatan manusia selalu berhati-hati agar mereka tidak menyimpang dari kebenaran,karena mereka tahu bahwa bertindak tidak benar dapat mencemarkan nama baiknya.
Dr.Yuyun Suriasumantri memiliki 3 teori:
- Teori Koherensi atau Konsistensi, yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bila bersifat koherensi atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh: Setiap manusia mati. Paul manusia. Paul akan mati.
- Teori Korespondensi, yaitu teori yang menjalankan bahwa suatu pernyataan benar bila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden(berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Contoh: Jakarta itu ibukota republik Indonesia.
- Teori Pragmatis, yaitu kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
D. Berbagai Kepercayaan dan Usaha meningkatkannya
Kepercayaan dibedakan atas:
1. Kepercayaan pada diri sendiri. Hal ini ditanamkan pada setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan padanya.
2. Kepercayaan kepada orang lain. Dapat berupa kepercayaan kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya.
3. Kepercayaan kepada Pemerintah. Menurut Prof.Ir.Poedjawiyatna, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memerintah dan memimpin bangsa manusia, atau setidaknya Tuhanlah pemilik kedaulatan sejati. Karena semua ciptaan Tuhan, maka pengemban tertinggi (Raja) langsung dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan. Jelaslah bagi kita bahwa Tuhan adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
4. Kepercayaan kepada Tuhan. Jika manusia berusaha agar mendapat pertolongan dari padanya, manusia harus percaya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan alam semesta dan isinya merupakan konsekuensi setiap umat beragama dalam melakukan pemujaan kepada zat tersebut.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha itu bergantung kepada pribadi kondisi, situasi, dan lingkungan. Usaha itu antara lain:
- Meningkatkan ketaqwaan kita dengan cara rajin beribadah.
- Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat.
- Meningkatkan kecintaan kita kepada sesama manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya.
- Mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan.
- Menekan perasaan negatif seperti iri, dengki, fitnah dan sebagainya.
No comments:
Post a Comment