Manusia dan Keindahan
A. KEINDAHAN
Keindahan berasal dari kata indah, yang artinya bagus,
permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya.
Keindahan juga bersifat universal, yang artinya tidak
terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan
atau lokal.
a. Apakah Keindahan itu?
Terdapat perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian,
yakni :
1. Keindahan dalam arti luas
2. Keindahan dalam arti estetis murni
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan
penglihatan
Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula dari
bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Jadi pengertian
keindahan yang seluas-luasnya meliputi :
1. Keindahan seni
2. Keindahan alam
3. Keindahan moral
4. Keindahan intelektual
Keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman
estetis dari sesorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
Keindahan dalam arti terbatas hanya menyangkut benda-benda
yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan
warna.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keindahan tersusun dari berbagai
keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata, atau
suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara
benda itu dengan si pengamat.
b. Nilai Estetik
Tentang nilai ada yang membedakan antara nilai subyektif
dan nilai obyektif, atau nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi
penggolongan yang penting adalah nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik.
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda
sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya, yakni nilai yang bersifat
sebagai alat atau membantu.
Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang
bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu
sendiri.
Contoh nilai ekstrinsik yaitu puisi, bentuk puisi yang terdiri
dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama. Sedangkan nilai instrinsik yaitu pesan
yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui puisi itu.
c. Kontemplasi dan Ekstansi
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk
menciptakan sesuatu yang indah.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan,
merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kontemplasi dan ekstansi dihubungkan dengan bentuk
di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah.
Bentuk diluar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni
suara, seni tari, seni sastra, seni drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan
misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni.
Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan
kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan,
sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati
keindahan.
d. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan?
Alasan/motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan,
yaitu :
1.
Tata nilai yang
telah usang
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang
sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, misalnya kawin paksa, derajad wanita
lebih rendah dari derajad laki-laki. Yang indah adalah tata nilai yang
menghargai dan mengangkat martabat manusia, terutama wanita.
2. Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajad dan nilai kemanusiaan
ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari
tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan
seksual. Hal ini dikatakan tidak baik atau tidak indah dan harus disingkirkan
melalui protes antara lain diungkapkan dalam karya seni.
3. Penderitaan Manusia
Faktor yang paling menentukan manusia itu menderita ialah
faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai
akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak berhati-hati, dll.
4. Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam
dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Manusia hanya dapat
meniru saja keindahan ciptaan Tuhan, namun seindah-indahnya tiruan terhadap
ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri.
e. Keindahan Menurut Pandangan Romantik
Kita dapat menggunakan kata-kata penyair romantic John
Keats sebagai pegangan. Dalam Endymion, ia mengatakan bahwa sesuatu yang indah
adalah keriangan selama-lamanya, kemolekannya bertambah, dan tidak pernah
berlalu ke ketiadaan.
Menurut Keats, orang yang mempunyai konsep keindahan hanya
tertentu jumlahnya. Mereka mempunyai negative capability, yaitu kemampuan untuk
selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu dan misterius tanpa mengganggu
keseimbangan jiwa dan tindakannya hanya pikiran dan hatinya yang selalu
diliputi keresahan.
Pada hakekatnya, negative capability adalah suatu proses.
Keraguan, ketidaktentuan dan misteri adalah suatu proses. Proses inilah yang
membuat seseorang menjadi kreatif. Orang yang tidak mempunyai negative capability
tidak akan kreatif, karena segala sesuatu baginya sudah jelas, tidak
menimbulkan keraguan dan tidak merupakan misteri.
B. RENUNGAN
Renungan berasal dari kata renung, artinya diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah
hasil merenung.
Dalam merenung untuk menciptakan seni, ada beberapa teori,
yaitu :
1.
Teori Pengungkapan
Dari teori ini ialah bahwa seni adalah suatu pengungkapan
dari perasaan manusia. Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh
seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.
Pengungkapan berwujud pelbagai gambaran angan-angan
seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang, pengungkapan
berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah
keluar.
2. Teori Metafisik
Teori seni yang bercorak metafisis merupakan salah satu
teori tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk
sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni.
Karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga
bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan.
Dalam jaman modern, suatu teori seni lainnya yang juga
bercorak metafisis dikemukakan oleh filsuf Arthur Schopenhauer. Menurut beliau
seni adalah suatu bentuk dari pemahaman terhadap realita. Dan realita yang
sejati adalah suatu keinginan yang sementara.
3. Teori Psikologis
Berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses
penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seorang
seniman. Sedangkan karya seninya merupakan bentuk terselubung yang diwujudkan
keluar dari keinginan-keinginan itu.
Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan
yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller dan Herbert Spencer. Seni merupakan
semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan
dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan.
Teori lain yang dapat dimasukkan dalam teori psikologis
ialah teori penandaan yang memandang seni sebagai suatu lambang atau tanda dari
perasaan manusia.
C. KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar
rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai
itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.
Pertentangan pun menghasilkan keserasian. Misalnya dalam
dunia musik, pada hakekatnya irama yang mengalun merupakan pertentangan suara
tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut.
Karena itu, keindahan pada dasarnya adalah sejumlah
kualitas/pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualitas yang paling
sering disebut adalah kesatuan, keselarasan, kesetangkupan, keseimbangan, dan
keterbalikan.
a) Teori Obyektif dan Teori Subyektif
The Liang Gie dalam bukunya, garis besar estetika
menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada 2 teori, yaitu :
1) Teori Obyektif
Pendukung teori ini adalah Plato, Hegel dan Bernard
Bocanquat.
Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri
yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualita) yang memang telah melekat
pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.
2) Teori Subyektif
Pendukung teori ini adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury,
dan Edmund Burke.
Teori subyektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang
menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam
diri seseorang yang mengamati sesuatu benda.
b) Teori Perimbangan
Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani
Kuno dulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas, yakni secara kualitatif
yang diungkapkan dengan angka-angka. Keindahan dianggap sebagai kualita dari
benda-benda yang disusun. Hubungan dari bagian-bagian yang menciptakan
keindahan dapat dinyatakan sebagai perimbangan atau perbandingan angka-angka.
Teori perimbangan berlku dari abad ke-5 sebelum masehi
sampai abad ke-17 masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan
dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni.