website gunadarma university

website gunadarma university
Gunadarma University

Thursday, May 26, 2016

bab 5

Manusia dan Keindahan

A. KEINDAHAN
Keindahan berasal dari kata indah, yang artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya.
Keindahan juga bersifat universal, yang artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
a. Apakah Keindahan itu?
Terdapat perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian, yakni :
1.     Keindahan dalam arti luas
2.     Keindahan dalam arti estetis murni
3.     Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan
Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi :
1.     Keindahan seni
2.     Keindahan alam
3.     Keindahan moral
4.     Keindahan intelektual
Keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman estetis dari sesorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
Keindahan dalam arti terbatas hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata, atau suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat.
b. Nilai Estetik
Tentang nilai ada yang membedakan antara nilai subyektif dan nilai obyektif, atau nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting adalah nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik.
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya, yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.
Contoh nilai ekstrinsik yaitu puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama. Sedangkan nilai instrinsik yaitu pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui puisi itu.
c. Kontemplasi dan Ekstansi
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kontemplasi dan ekstansi dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Bentuk diluar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, seni sastra, seni drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni.
Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan.
d. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan?
Alasan/motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan, yaitu :
1.     Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, misalnya kawin paksa, derajad wanita lebih rendah dari derajad laki-laki. Yang indah adalah tata nilai yang menghargai dan mengangkat martabat manusia, terutama wanita.
     2. Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajad dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual. Hal ini dikatakan tidak baik atau tidak indah dan harus disingkirkan melalui protes antara lain diungkapkan dalam karya seni.
     3. Penderitaan Manusia
Faktor yang paling menentukan manusia itu menderita ialah faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak berhati-hati, dll.
     4. Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan, namun seindah-indahnya tiruan terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri.
e. Keindahan Menurut Pandangan Romantik
Kita dapat menggunakan kata-kata penyair romantic John Keats sebagai pegangan. Dalam Endymion, ia mengatakan bahwa sesuatu yang indah adalah keriangan selama-lamanya, kemolekannya bertambah, dan tidak pernah berlalu ke ketiadaan.
Menurut Keats, orang yang mempunyai konsep keindahan hanya tertentu jumlahnya. Mereka mempunyai negative capability, yaitu kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakannya hanya pikiran dan hatinya yang selalu diliputi keresahan.
Pada hakekatnya, negative capability adalah suatu proses. Keraguan, ketidaktentuan dan misteri adalah suatu proses. Proses inilah yang membuat seseorang menjadi kreatif. Orang yang tidak mempunyai negative capability tidak akan kreatif, karena segala sesuatu baginya sudah jelas, tidak menimbulkan keraguan dan tidak merupakan misteri.
B. RENUNGAN
Renungan berasal dari kata renung, artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung.
Dalam merenung untuk menciptakan seni, ada beberapa teori, yaitu :
1.     Teori Pengungkapan
Dari teori ini ialah bahwa seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia. Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.
Pengungkapan berwujud pelbagai gambaran angan-angan seperti misalnya images warna, garis dan kata. Bagi seseorang, pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar.
      2. Teori Metafisik
Teori seni yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni.
Karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan.
Dalam jaman modern, suatu teori seni lainnya yang juga bercorak metafisis dikemukakan oleh filsuf Arthur Schopenhauer. Menurut beliau seni adalah suatu bentuk dari pemahaman terhadap realita. Dan realita yang sejati adalah suatu keinginan yang sementara.
        3. Teori Psikologis
Berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seorang seniman. Sedangkan karya seninya merupakan bentuk terselubung yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu.
Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller dan Herbert Spencer. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan.
Teori lain yang dapat dimasukkan dalam teori psikologis ialah teori penandaan yang memandang seni sebagai suatu lambang atau tanda dari perasaan manusia.
C. KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.
Pertentangan pun menghasilkan keserasian. Misalnya dalam dunia musik, pada hakekatnya irama yang mengalun merupakan pertentangan suara tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut.
Karena itu, keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas/pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan, keselarasan, kesetangkupan, keseimbangan, dan keterbalikan.
a) Teori Obyektif dan Teori Subyektif
The Liang Gie dalam bukunya, garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada 2 teori, yaitu :
          1) Teori Obyektif
Pendukung teori ini adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat.
Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualita) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.
         2) Teori Subyektif
Pendukung teori ini adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke.
Teori subyektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda.
b) Teori Perimbangan
Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani Kuno dulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas, yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka. Keindahan dianggap sebagai kualita dari benda-benda yang disusun. Hubungan dari bagian-bagian yang menciptakan keindahan dapat dinyatakan sebagai perimbangan atau perbandingan angka-angka.
Teori perimbangan berlku dari abad ke-5 sebelum masehi sampai abad ke-17 masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni.




Manusia dan Cinta Kasih

A. PENGERTIAN CINTA KASIH
Menurut Kamus umum Bahasa Indonesia, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), atau (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya.
Sedangkan kata “kasih” artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan, pengenalan.
1.     Pengasuhan -> Contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang ibu pada anaknya, bagaimana seorang ibu dengan rasa cinta kasihnya mengasuh anaknya dengan sepenuh hati.
2.     Tanggung jawab -> Sesuatu tindakan yang sama sekali suka rela yang dalam kasus hubungan ibu dan anak bayinya menunjukkan penyelenggaraan atas hubungan fisik.
3.     Perhatian -> Berani memperlihatkan bahwa pribadi lain itu hendaknya berkembang dan membuka diri sebagaimana adanya.
4.     Pengenalan -> Keinginan untuk mengetahui rahasia manusia.
Pengertian tentang cinta juga dikemukakan oleh Dr. Sarlito W. Sarwono. Menurutnya, cinta memiliki 3 unsur, yaitu :
1.     Keterikatan : Adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia.
2.     Keintiman : Adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara, digantikan dengan memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.
3.     Kemesraan : Adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang.
Dr. Abdullah Nasih Ulwan juga mengemukakan apa itu cinta. Menurutnya, Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dengan kehidupannya dan selalu dibutuhkan.
B. CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
1.     Cinta Diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri.
Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.
Namun hendaknya cinta manusia pada dirinya tidaklah berlebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini diimbangi dengan cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada mereka.
2.     Cinta Kepada Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain.
Oleh karena itu, Allah ketika memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri Allah langsung memberi pujian kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri. Keimanan bisa menyeimbangkan antara cintanya kepada diri sendiri dan cintanya pada orang lain, dan dengan demikian akan bisa merealisasikan kebaikan individu dan masyarakat.
3.     Cinta Seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual, sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasama antara suami istri, dan merupakan faktor primer bagi kelangsungan hidup keluarga.
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi penting, yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksual, terbentuklah keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan industri menjadi maju. Islam mengakui dorongan seksual dan tidak mengingkarinya. Namun yang diserukan hanyalah pengendalian dan penguasaan cinta ini, lewat pemenuhan dorongan seksual dengan cara yang sah, yaitu dengan perkawinan.
4.     Cinta Kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dengan anak-ananya tidak terjallin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modem berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan psikis. Dorongan ini nampaknya jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya, karena mereka sumber kesenangan dan kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia.
Biasanya cinta kebapakan Nampak dalam perhatian seorang bapak pada anak-anaknya. Asuhan, nasehat, dan pengarahan yang diberikannya pada mereka, demi kebaikan dan kepentingan mereka sendiri.
5.     Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya.
C. KASIH SAYANG
Menurut W.J.S.Poerwadarminta : “Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.”
Adanya kasih sayang ini mempengaruhi kehidupan si anak dalam masyarakat. Orang tua dalam memberikan kasih sayangnya bermacam-macam demikian pula sebaliknya. Dari cara pemberian cinta kasih dapat dibedakan menjadi 4,yaitu:
1.     Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif.Dalam hal ini orang tua memberikan kasih sayang terhadap anaknya baik berupa moral-materiil dengan sebanyak-banyaknya, dan si anak menerima saja, mengiyakan, tanpa memberikan respon
2.     Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif.Dalam hal ini si anak berlebih-lebihan memberikan kasih sayang terhadap orang tuanya, kasih sayang ini diberikan secara sepihak, orang tua mendiamkan saja tingkah laku si anak, tidak memberikan perhatian apa yang diperbuat si anak.
3.     Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif. Disini jelas bahwa masing-masing membawa hidupnya, tingkah launya sendiri-sendiri, tanpa saling memperhatikan. Kehidupan keluarga sangat dingin, tidak ada kasih sayang, masing-masing membawa caranya sendiri, tidak ada tegur sapa jika tidak perlu. Orang tua hanya memenuhi dalam bidang materi saja.
4.     Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif. Dalam hal ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang dengan sebanyak-banyaknya. Sehingga hubungan antara orang tua dan anak sangat intim dan mesra, saling mencintai, saling menghargai, saling membutuhkan
D. KEMESRAAN
Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesaraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria wanita sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. Kemesraan dapat menimbulkan kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
E. PEMUJAAN
Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan sebenarnya.
Pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal ini berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya. Mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, ahar ditunjukan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
F. BELAS KASIHAN
Belas kasihan disebut juga dengan kepedulian adalah emosi manusia yang muncul akibat penderitaan orang lain. Lebih kuat daripada empati , perasaan ini biasanya memunculkan usaha mengurangi penderitaan orang lain.
Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahklak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia menggunggah potensi belas kasihannya out. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang yang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
G. CINTA KASIH EROTIS
Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antar orang-orang yang sama-sama sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang yang lemah tanpa daya. Walaupun terdapat peredaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakekatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja.
Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Dalam hal itu, hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan sifat-sifat yang rakus atau serakah dalam keinginan untuk menaklukan atau untuk ditaklukan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak serta kemesraan.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya.
Cinta kasih pada hakekatnya merupakan suatu perbuatan kemauan, suatu keputusan untuk mengikat kehidupan dengan seseorang lain. Cinta kasih dianngap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba tercekan oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan.
Dengan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu diak lain dari perbuatan kemauan, kedua-duanya benar atau lebih tepat jika dikatakan bahwa tidak terdapat pada pandangan yang satu juga tidak pada yang lain.


Wednesday, May 11, 2016

Manusia dan Kebudayaan

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

A. MANUSIA
·        Ada dua pandangan yang dijadikan acuan  untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia, yaitu :
1.     Manusia terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu :
a. Jasad, yaitu badan kasar manusia yang nampat pada luarnya, dapat diraba dan di foto, dan menempati ruang dan waktu
b. Hayat, yaitu mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak
c. Ruh, yaitu bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan
d. Nafs, yaitu kesadaran tentang diri sendiri
2. Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur, yaitu :
a. Id, merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran.
b. Ego, merupakan bagian dari struktur kepribadian yang sering disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial dapat dimengerti oleh orang lain. Perkembangan ego terjadi antara usia 1 dan 2 tahun pada saat anak secara nyata berhubungan dengan lingkungannya.
c. Superego, merupakan struktur kepirbadian yang paling akhir, muncul kira-kira saat usia 5 tahun. Superego merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang mempunya otoritas di dalam lingkungan luar diri yang  biasanya asimilasi dari pandangan-pandangan orang tua.
B. HAKEKAT MANUSIA
1. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jiwa adalah roh yang ada di dalam tubuh manusia sebagai penggerak dan sumber kehidupan. Jiwa terdapat di dalam tubuh, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi.
2. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Daya rasa (perasaan) dalam diri manusia ada 2 macam, yaitu :
a. Perasaan inderawi : rangsangan jasmani melalui pancaindra, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau hewan.
b. Perasaan rohani : perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia, misalnya :
·        Perasaan intelektual, yaitu perasaan yang berkenan dengan pengetahuan.
·        Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan.
·        Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenan dengan kebaikan.
·        Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain.
·        Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenan dengan kelompok atau hidup bermasyarakat.
·        Perasaan religious, yaitu perasaan yang berkenan dengan agama atau kepercayaan.
3. Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi.
Sebagai makhluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi, fisiologi, biokimia, psikobiologi, patologi, genetika, dan sebagainya.
Sebagai makhluk budayawi, manusia dapat dipelajari dari segi-segi kemasyarakatan, kekerabatan, psikologi sosial, kesenian, ekonomi, dan sebagainya.
4. Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi) , mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Hidup manusia mempunyai tiga taraf, yaitu :
·        Estetis : Manusia mampu menangkap dunia sekitarnya sebagai dunia yang mengagumkan.
·        Etis : Manusia meningkatkan kehidupan estetis ke dalam tingkatan manusiawi dalam bentuk-bentuk kepitusan bebas dan dipertanggungjawabkan.
·        Religius : Manusia menghayati pertemuannya dengan Tuhan.
C. KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR
·        Sampai sekarang, ilmu psikologi di negara-negara Barat mengembangkan konsep atau teori mengenai warna isi jiwa serta metode dan alat untuk menganalisis variasi isi jiwa individu. Sebaliknya, ilmu itu belum menganalisis keterkaitan antara jiwa individu dan lingkungan sosial budayanya.
·        Francis L.K Hsu mengembangkan konsepsi bahwa jiwa manusia sebagai makhluk sosial budaya mengandung 8 daerah, yaitu :

Image result for manusia dan kebudayaan
                              
Penjelasan :
·        Nomor 7 dan nomor 6 : Berada di daerah dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam.
·        Nomor 5: Terdiri dari pikiran dan gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan.
·        Nomor 4 : Mengandung pikiran, gagasan, dan perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu ke sesamanya.
·        Nomor 3 : Mengandung konsepsi tentang orang, binatang, atau benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib.
·        Nomor 2 : Ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, binatang, atau benda bagi dirinya.
·        Nomor 1 : Terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, benda, alat, pengetahuan, dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri.
·        Nomor 0 : Terdiri dari pikiran dan anggapan tentang orang dan hal yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap masa bodoh.
D. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
·        Dalam bahasa Sansekerta, kebudayaan berasal dari kata “budhayah” yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Latin, kebudayaan berasal dari kata “colere” yang berarti mengolah tanah. Jadi, kebudayaan secara umum adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya.
·        Menurut E.B. Taylor, kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
·        Menurut Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi, kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
·        Secara praktis, kebudayaan merupakan sistem nilai dan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga sistem kebudayaan, yaitu : sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem teknologi.
E. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
·        C. Kluckhohn di dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan bahwa ada 7 unsur kebudayaan universal, yaitu :
1.     Sistem Religi (Sistem Kepercayaan) : Merupakan produk manusia sebagai homo religieus.
2.     Sistem Organisasi Kemasyarakatan : Merupakan produk manusia sebagai homo socius.
3.     Sistem Pengetahuan : Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens.
4.     Sistem Mata Pencaharian Hidup dari Sistem-Sistem Ekonomi : Merupakan produk manusia sebagai homo economicus.
5.     Sistem Teknologi dan Peralatan : Merupakan produk manusia sebagai homo faber.
6.     Bahasa : Merupakan produk manusia sebagai homo longuens.
7.     Kesenian : Merupakan hasil dari manusia sebagai homo aesteticus.
F. WUJUD KEBUDAYAAN
·        Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu :
1.     Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia.
Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya.
2.     Kompleks aktivitas
Wujud ini disebut sistem sosial. Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati.
3.     Wujud sebagai benda
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya
G. ORIENTASI NILAI BUDAYA
Menurut C. Kluckhohn, sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1.     Hakekat hidup manusia (MH)
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern; ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula dengan menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”.
2.     Hakekat karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
3.     Hakekat waktu manusia (WM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda-beda; ada yang mementingkan orientasi masa lampau, ada yang masa kini atau masa yang akan datang.
4.     Hakekat alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5.     Hakekat hubungan manusia (MN)
Ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis.
H. PERUBAHAN KEBUDAYAAN
·        Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh :
1.     Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2.     Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka cenderung berubah lebih cepat.
·        Faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :
1.     Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2.     Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.
3.     Corak struktur sosial suatu masyarakat mementukan proses penerimaan kebudayaan baru, misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
4.     Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5.     Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas, dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
I. KAITAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN
·        Dalam sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, artinya walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri.
·        Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis (saling terkait satu sama lain).
·        Proses dialektis tercipta melalui 3 tahap, yaitu :
1.     Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
2.     Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
3.     Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dapat hidup dengan baik.